Articles

Articles Stories

Cincin Kawin, Berawal Dari 5000 Tahun Lalu Di Mesir Kuno

Wedding ring boleh berubah-ubah wujudnya selama ribuan tahun, tetapi makna dan simbolisasinya tetap sama dan relevan sampai detik ini.

Pernah bertanya-tanya, sejak kapan manusia memakai cincin sebagai tanda berkomitmen dalam sebuah pernikahan? Ternyata, tradisi ini sudah berlangsung sangat lama, melebihi awal kalender Masehi.

Meskipun cincin kawin dibuat dari berbagai bahan yang berbeda-beda di tiap zaman, namun tidak pernah menggoyahkan keyakinan bahwa perlu sebuah simbol untuk merayakan persatuan dua manusia. Buktinya, sampai hari ini pemakaian cincin kawin tetap bertahan. Bagaimana perjalanan wedding ring sebagai lambang pernikahan dari masa ke masa?

 

Cincin Rumbai Mesir Kuno

Kebiasaan memakai cincin kawin sesungguhnya sudah dimulai sejak 5000 tahun lalu di zaman Mesir kuno. Akar rerumputan yang tumbuh bersama pohon papirus dirangkai sedemikian rupa di jari mempelai wanita yang akan menikah.

Saat itu pun, cincin yang terbuat dari akar rerumputan dan rumbai ini dibentuk melingkar untuk merepresentasikan lingkaran tanpa awal dan akhir yang berarti keabadian yang tanpa batas.

Kalau di masa sekarang janji nikah identik dengan penutup ‘sampai maut memisahkan’, maka di saat itu cincin melambangkan cinta kedua mempelai, ikatan yang menyatukan serta kesetiaan yang mengiringi bahkan sampai ke alam sesudah kematian.

Meskipun bahan cincin yang digunakan tidak bertahan lama setelah upacara pernikahan selesai dan harus sering diganti, tetapi konsepnya disepakati dan diterima dengan baik. Seiring berlalunya waktu, mereka menemukan bahan yang makin lama makin kuat untuk membuat cincin ini. Tidak hanya itu, cincin pun mulai bernilai mahal, lebih punya nilai estetika dan tentunya lebih personal.

 

Cincin Logam di Zaman Yunani dan Romawi

Tradisi memakai cincin nikah ini terus berlanjut sampai ke zaman Yunani kuno dan lalu berlanjut ke masa kekaisaran Romawi di tahun 27 Sebelum Masehi sampai 476 Sesudah Masehi. Saat itu, cincin dibuat dari bahan yang beragam, dari kulit dan tulang binatang sampai gading binatang.

Tapi di masa Romawi ini pula cincin mulai dibuat dari logam, tepatnya besi yang dinilai sangat kuat dan sangat tahan lama mengingat komitmen seumur hidup yang menyertainya.  Di sini, cincin mulai memasuki kelas-kelas sosial yang berbeda. Buat kalangan atas, pilihan logam mulai bervariasi ke emas dan perak yang bernilai lebih mahal.

Memasuki abad pertengahan, cincin mulai dipersonalisasi. Salah satunya dengan menambahkan ukiran yang beragam bentuknya. Dari yang menggambarkan sosok wajah kedua mempelai, jalinan tangan sampai kalimat pendek bermakna khusus.

Makin lama, model cincin juga makin modern dan rumit. Salah satu yang terkenal adalah Gimmel ring, yaitu 2-3 buah cincin yang saling terkait yang ketika dipakai bersamaan akan menampilkan cincin yang utuh.

 

Berlian juga mulai digunakan sebagai ornamen cincin kawin. Bukan hanya menambah estetika keindahan, berlian sebagai materi terkeras di dunia yang sifatnya abadi sangat sesuai dengan idealisme pernikahan itu sendiri. Cincin kawin berlian umumnya tidak menggunakan berlian besar, tapi keberadaannya tetap signifikan.

 

Sejak Kapan Pria Memakai Cincin Kawin?

Penggunaan cincin kawin baik pada zaman Mesir Kuno atau pun Yunani dan lalu Romawi hanye berlaku pada wanita (kecuali pada Gimmel ring). Tradisi memakai cincin kawin pada pria baru dimulai pada pertengahan abad ke-20.

Kaum pria mulai merasa perlu menunjukkan komitmen dan kesetiaan terhadap istri mereka saat perang dunia berlangsung. Tepatnya saat para tentara mulai terlihat memakai cincin kawin untuk mengingat istri tercinta saat ditugaskan ke luar negara.

Makin lama, pemakaian cincin kawin oleh pria makin umum. Meskipun model dan bahannya lebih simple dan basic, ini jadi bukti bahwa upaya menunjukkan komitmen pernikahan kini berlaku baik untuk pria maupun wanita.

 

Di Manakah Cincin Kawin Dipakai?

Posisi pemakaian cincin kawin berbeda-beda di tiap budaya. Sejak zaman Mesir Kuno sampai Romawi, cincin kawin untuk wanita dipakai di ringer finger yaitu jari manis tangan kiri. Sebabnya karena pembuluh nadi di jari manis tersebut langsung terhubung ke jantung, lazim disebut sebagai vena amoris/vein of love.

Ini berlanjut terus di negara-negara yang jadi bagian persemakmuran Inggris, sebagian Eropa Barat, Eropa Timur dan sebagian benua Amerika. Untuk selengkapnya, negara-negara tersebut adalah Australia, Botswana, Kanada, Mesir, Irlandia, Selandia Baru, Afrika Selatan, Inggris Raya, Amerika Serikat, Prancis, Italia, Portugal, Swedia, Finlandia, Czech Republic, Slovakia, Swiss, Kroasia, Slovenia, Romania, juga di Catalonia dan Valencia yang jadi bagian Spanyol.

Sementara itu, pemakaian cincin kawin di jari manis tangan kanan ada di negara-negara Bulgaria, Yunani, Georgia, Latvia, Lithuania, North Macedonia, Russia, Serbia, Ukraina, Austria, Belgia, Denmark, Jerman, Hungaria, Polandia, Belanda [untuk yang non Katolik], Norwegia, Spanyol, Kolombia, Kuba, Peru dan Venezuela.

Di negara-negara Asia dan dominan muslim, pemakaian cincin sebenarnya tidak menjadi kewajiban tetapi tetap menjadi tradisi yang selalu dilakukan. Di Indonesia misalnya, cincin biasa digunakan di jari manis tangan kiri saat lamaran lalu berpindah ke jari manis tangan kanan saat menikah. Belakangan, makin banyak pasangan di Indonesia yang menyadari pentingnya cincin tunangan (proposal ring) yang berbeda dari cincin kawin.

 

Mengetahui begitu panjangnya sejarah cincin kawin, tidak ada salahnya kini Anda yang ingin menikah memilih dengan seksama cincin kawin yang paling tepat untuk dijadikan simbol cinta sekarang dan selamanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *